WELCOME TO MY BLOG

"Buruk tapi Bermanfaat buat orang lain lebih baik dari pada baik tidak bermanfaat buat orang lain"

Rabu, 06 April 2011

belajar cerdas atau belajar sabar???

  ASSALAMU ALAIKUM WR.WB

    Mungkin terkadang kita sendiri "terjebak" dengan pilihan yang kita pilih, dan setelah kita sadar kita ingin sekali mengulangi hal tersebut.entah dengan penyesalan,memperbaiki kesalahan tersebut,atau terkadang kita hanya duduk termenung tanpa dapat mengambil hikmah yang biasanya terdapat di balik tabir suatu peristiwa,mungkin karena kadang pemikiran kita yang dangkal akan hal tersebut,dan ke Phobia-an kita untuk melakukan suatu langkah berani.

   ada hal yang sudah sejak lama,"menggelitik" saya,entah karena memang saya kurang kerjaan,atau mungkin saya terlalu jeli melihat suatu keajaiban (miracle).suatu saat pasti kita pernah belajar untuk memilih sesuatu secara cerdas atau secara sabar,inilah yang akan saya bahas.

   
   Suatu ketika,ketika saya pribadi mengendarai sepeda motor dan mengarungi jalanan di sekitar gang yang tidak terlalu kecil (karena 2 mobil juga masuk) melihat kehidupan sosial yang sangat khas indonesia,ketika itu ada 2 mobil yang ada dihadapan saya menghalangi jalan saya untuk melewati jalan.karena pada saat itu bel masuk sekolah akan segera dibunyikan,disini lah dua pilihan muncul, belajar cerdas?? atau belajar sabar?? tanpa berfikir panjang saya pun memilih untuk belajar cerdas,dan mengambil jalan lain untuk segera bisa melewati jalan tersebut,tapi sementara "rekan-rekan" sejalan tetap sabar menunggu laju mobil yang kira2 kecepatannya hanya 20 km per jam,saya pun dengan berseri-seri dan bangga bisa melewati mobil tersebut.tapi pada saat di penghujung jalan yang menyambungkan dengan jalan tadi,"rekan-rekan"sejalan tadi sudah terlebih dahulu meninggalkan saya,saya agak kesal juga,ternyata belajar cerdas tidak lebih beruntung dari belajar sabar, saya teringat dengan mahfudhot bahasa arab "man shobaro dzofiro" barang siapa yang bersabar maka beruntunglah ia.atas dasar inilah saya bisa mengambil kesimpulan bahwa dahsyatnya sabar sangat menguntungkan kita di kehidupan sehari-hari. inilah mungkin riset saya yang tidak sengaja ini saya publikasikan.semoga dapat bermanfaat dan menjadi bahan referensi untuk mengarungi bahtera kehidupan kita agar hidup kita lebih bermakna,amiinn.

WASSALAM 

Minggu, 20 Maret 2011

MUKJIZAT BERTEBARAN DI SEKELILING ANDA

oleh: my idol,bpk Ulil abshar abdalla

Salam,
Kata-kata yang menarik dari Morgan Freeman dalam bagian akhir film komedi bertitel Bruce Almighty garapan sutradara Tom Shadyac itu sangat menarik kita simak:
A single mom who’s working two jobs and still finds time to take her kid to soccer practice, that’s a miracle. A teenager who says no to drugs and yes to an education, that’s a miracle. People want me to do everything for them, and what they don’t realize is – they have the power. You want to see a miracle, son? Be the miracle.”
Saya terpukau dengan kalimat ini.
Selama ini kita memahami mukjizat secara fantastis sebagai peristiwa-peristiwa besar seperti Musa membelah dan menyeberangi Laut Merah dengan tongkatnya, atau banjir bandang pada masa Nuh yang menelan seluruh manusia di bumi, atau Yesus yang menghidupkan orang mati, atau Muhammad yang mengendarai hewan “buraq” dan melesat terbang ke langit tujuh dalam peristiwa Isra’-Mi’raj, dsb.
Kita tak pernah benar-benar bisa tahu bahwa kejadian-kejadian fantastis di masa lampau itu benar-benar faktual pernah tejadi. Boleh jadi itu hanya dongeng yang dipungut oleh Quran dari khazanah folklore Yahudi yang tersebar di kawasan Timur Tengah saat itu sekedar untuk medium penyampaian pesan dakwah. Yang penting bukanlah mukjizat fantastis itu. Tetapi pesan apa yang hendak disampaikan oleh dongeng mukjizat itu.
Manusia di manapun butuh dongeng dan legenda. Di Mesopotamia ada legenda Gilgamesh. Di Yunani ada legenda Odyssey dan Iliad. Di India ada legenda Ramayana dan Mahabharata. Dalam agama-agama semitik ada legenda Nuh, Ibrahim, Musa, Yesus dan seterusnya.
Legenda itu berkisah tentang keajaiban fantastis yang nyaris di luar penalaran akal sehat. Apakah legenda dalam Gilgamesh itu faktual, kita tak pernah tahu Apakah epik Homer dari Yunani, atau Ramayana dan Mahabharata dari India benar-benar terjadi pada suatu waktu, kita juga tak tahu.
Apakah kisah “ajaib” Musa, Yesus, atau Muhammad sungguh-sungguh nyata, kita juga tak pernah bisa tahu dengan pasti. Orang-orang beriman dalam ketiga agama yang diwakili oleh ketiga tokoh besar itu tentu percaya benar bahwa keajaiban fantastis yang terjadi pada tiga tokoh itu adalah faktual dan benar-benar terjadi.
Bagi saya, pelajaran yang penting dari suatu mukjizat dan keajaiban bukanlah soal apakah kejadian itu faktual atau tidak. Bagi saya, tak terlalu penting apakah Musa benar-benar membelah laut dan menyeberangkan ribuan orang Israel dari Mesir untuk menghindar dari perbudakan yang mereka derita di sana.
Dalam sebuah mukjizat, yang penting adalah kisah tentang kemampuan manusia untuk mengatasi keterbatasan fisik dan halangan-halangan yang muncul di sekelilingnya. Yang penting dalam sebuah mukjizat adalah kemampuan manusia untuk melakukan “transendensi”, melampaui sesuatu yang “jasmaniah”, menuju kepada kemampuan “rohaniah” yang nyaris tanpa batas.
Dalam pandangan agama-agama semitik, manusia diciptakan mengikuti citra Tuhan. Dalam Quran, Kitab Suci umat Islam, disebtkan bahwa Tuhan menghembuskan “roh”-Nya ke dalam manusia. Dengan kata lain, dalam diri manusia terdapat unsur “ilahiah”. Unsur inilah yang membuat manusia mampu melaksanakan mukjizat dan keajaiban.
Tetapi, haruskah mukjizat dalam bentuk tindakan fantastis yang yang berada di luar penalaran akal sehat?
Seperti dikatakan oleh “Tuhan” yang diperankan oleh Morgan Freeman dalam film komedi “Bruce Almighty” itu, mukjizat tidaklah harus berupa peristiwa besar yang fantastis. Mulkjizat yang “sungguhan” justru adalah keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup anda sehari-hari, keajaiban hasil karya tangan anda sendiri.
Seorang remaja yang berani berkata “tidak kepada narkoba, padahal di sekelilingnya remaja-remaja lain mengonsumsinya, itulah mukjizat.
Seorang pedagang bakso yang kerja banting tulang berjualan siang-malam tanpa lelah, dan berhasil mengirim anaknya ke universitas, mencapai gelar akademik tertinggi dengan biaya dari jualan bakso, itulah mukjizat.
Seorang petugas kebersihan kota yang menyapu jalan-jalan kota, menyiangi taman-taman kota dari hari ke hari, berdedikasi tanpa lelah terhadap pekerjaanya, tanpa peduli apakah orang lain memperhatikan karyanya atau tidak, itulah mukjizat.
Mukijzat bisa kita ciptakan sendiri. Di sekeliling anda berseliweran kisah mukijzat setiap hari tanpa anda menyadarinya. Anda terpukau pada kisah Musa yang membelah dan menyeberangi laut dengan tongkatnya. Tetapi anda lupa mengagumi kisah mukjizat “kecil” yang bertebaran di sekeliling anda.
Human being is the author of every miracle. It ‘s only human who do miracle, not angles.

Bergesernya nilai-nilai budaya di INDONESIA

    zaman semakin tua,hamparan rumput yang hijau pun sudah mulai menjadi abu "semen",wah enggak tau kenapa saya sangat tertarik untuk memperhatikannya,dengan zaman semakin tua,kita sering melihat semakin bergeser pula tatanan nilai-nilai budaya indonesia.orang sekarang sudah mulai gengsi dengan melestarikannya.ada hal yang unik yang akan saya garis bawahi khususnya di tatar pasundan tempat kelahiran saya yang juga dikenal oleh masyarakat luas dengan ceritera sangkuriangnya.
  
   oke saya mulai menganalisa,sekarang orang mulai enggan belajar alat musik saja yang khas dari daerah pasundan,padahal itu adalah situs budaya juga yang sangat dihargai oleh "orang bule" di seberang samudera sana.
seperti:
-rampak sekar
-angklung
-degung
-cianjuran
 sekarang saya sudah jarang melihat dan mendengar itu semua, biasanya sih orang Indonesia akan merasa seperti kebakaran jenggot jika budaya kita di "RAMPAS" oleh orang lain,tapi sebelumnya dia tidak melestarikannya oleh karena itu yuk kita lestarikan budaya kita masing2,untuk orang sunda seperti saya yuk kita jaga hal2 yang diatas tadi!!

utamakan ukhuwah

Assalamu 'alaikum WR.WB
Terilhami oleh sebuah buku dari seorang cendekiawan muslim Bpk.Dr.jalaludin rakhmat.M.sc,yang berjudul "dahulukan akhlaq diatas fiqih" yang menceriterakan tentang bagaimana kita harus mengesampingkan FANATISME FAHAM kita untuk ukhuwah dengan orang Islam yang tidak sepaham dengan kita, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak sekali orang yang rela memutuskan ukhuwah karena masalah FANATISME FAHAM,yang sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan.

banyak sekali orang yang mengatasnamakan kebenaran padahal mereka telah melakukan kesalahan,banyak orang yang mengatasnamakan kewajiban,tapi mereka sendiri telah melanggar hak orang lain dan HAM,semoga dengan ditulisnya catatan ini,bisa membuat kita introspeksi diri sebagai pencerahan ruhani,amin

salam ta'dzim
saya pun menerima kritik dan saran yang membangun
yang akan membuat saya lebih baik lagi

Wassalam

fenomena sosial sehari-hari

Assalamu alaikum
Sebetulnya ini bukan tentang politik,karena saya sendiri bukan politisi,tapi ada unek2 yang memang mengganjal semenjak terjadinya suatu peristiwa, proses demokrasi sebagai esensi dari pancasila menjadi hangat untuk diperbincangkan.

ada segelintir orang yang salah dalam mengimplementasikannya,demokrasi disini bukan berdasarkan kualitas,tapi hanya sekedar fatamorgana yang penuh dengan kepalsuan dan intrik yang sangat menggelikan,karena mungkin nepotisme seorang teman dan ke iri hatian yang membabi buta yang akhirnya bisa terjadi hal seperti ini, dan kekesalan juga terjadi apabila datang teman yang manjadi musuh dalam selimut,dan itulah yang biasanya membuat orang lebih mudah dihancurkan(padahal ada juga yang tidak terpengaruh sama sekali hehe) duri dalam daging yang maknanya sama2 saja.

hehe baik baik dan baik,padahal dibalik itu semua ada intrik untuk menjatuhkan,tapi tidak apa2 itu sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga, biasa dalam dunia politik,ini menandakan kita harus lebih banyak lagi belajar tentang demokrasi ini,sebuah kesombongan jika kita tidak mau belajar dari kesalahan,Yuk kita semua introspeksi diri kita masing2.Pemimpin sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup masyarakatnya,,masukan itu ke dalam lubuk kita kawan!!

saya disini bukan berbicara tentang politik di INDONESIA karena saya belum memiliki kapasitas,tapi saya mengeluarkan unek2 yang terjadi dalam kehidupan saya sehari2,jadi tidak ada kaitannya dengan politik indonesia, Saya cinta INDONESIA,tapi saya mencintainya dengan mencintai budayanya saja,tidak mau ikut campur dengan hiruk pikuk perpolitikan indonesia.

Terima Kasihh

Wassalam